Buat Melayang, Tatapan Si Gadis Kecil Kelambu
Dibilang seram, juga konyol. Dibilang konyol juga seram. Ijinkan saya memperkenalkan sosok utama yang akan dibahas dalam cerita kali ini. Namanya, gadis kecil kelambu. Kami menyebutnya gadis kecil kelambu karena pertama dan terakhir kali kami berjumpa dengan sosoknya, dia berdiri di depan kelambu. Amit-amit kalau harus berjumpa lagi, HEHE.
Tepatnya mungkin dini hari tempo itu, saya dan kakak mimpi terbangun secara bergantian. Kami masih SD dan belum lama pindah ke rumah baru. Rumah baru kami cukup luas, namun hanya ada tiga kamar di dalamnya. Saya dan kakak menempati kamar depan, sementara orang tua kami menempati kamar tengah. Tidak lupa dengan kamar belakang, kamar tersebut digunakan sebagai ruang ganti atau kerennya dressing room lah, ya.
Singkat cerita, biasanya saya dan kakak naik ke tempat tidur pukul sepuluh malam setelah menonton film bersama kedua orang tua kami. Keluarga kami selalu menutup malam dengan berdoa bersama sebelum tidur. Namun, malam itu kami berdoa sendiri-sendiri karena orang tua kami masih mau menonton televisi, sementara saya dan kakak sudah harus pergi tidur karena takut bangun kesiangan keeseokan harinya. Kami memutuskan pamit tidur duluan kepada kedua orang tua kami dan berdoa sebelum tidur sendiri-sendiri.
Malam itu, saya sudah merasa seperti akan kedatangan tamu di rumah. Namun, saya menyimpan firasat saya sendiri dan tidak menceritakannya pada kakak saya. Simple saja alasannya, kakak saya seorang penakut saat masih kecil, sehingga saya tidak tega memberitahunya tentang firasat saya.
“Dek, tidur sekasur aja yok malem ini?” ujar kakak tiba-tiba ketika saya hendak mematikan lampu kamar.
Kami dibiasakan tidur dengan lampu mati dengan alasan kesehatan dan guna melatih keberanian. Pintu kamar kami juga selalu dibuka dan hanya dipasang kelambu dengan alasan lebih cepat lari dari bahaya apabila pintu terbuka.
Namun, pertanyaan kakak malam ini terasa mengganjal di telinga saya. Saya mendekati kakak dan bertanya kepadanya, “kamu takut, kak?” tanyaku dengan raut wajah menggodanya sampai dia marah.
“Haish, gak lah! Aku cuma nawarin, siapa tahu kamu takut, dek.” Ujarnya membantahku dengan tetap berusaha tenang.
Aku tertawa kecil menanggapinya dan beralih pindah ke kasurku yang terletak berseberangan dengan tempat tidur kakak. Karena aku dianggap lebih berani daripada kakak, aku selalu menempati posisi tempat tidur yang langsung menghadap ke pintu. Sementara kakak di bagian dalam yang tidak berhadapan dengan pintu.
“Met bobok, kakak. Tuhan berkati.” Ujarku.
“Met bobok juga adek, Tuhan berkati.” Balas kakak dan kami segera memejamkan mata.
Malam itu, kami memutuskan tidur sendiri-sendiri seperti hari-hari biasanya. Lampu sudah mati, kelambu tertutup rapat, dan lampu tengah menyala terang.
Aku menutup mataku dan terlelap, begitu pun kakak. Samar-samar aku bisa mendengar suara televisi perlahan sirna, dan derap langkah kaki kedua orang tuaku yang masuk ke kamar tengah juga terdengar lirih, menjadi penanda waktu telah beralih menjadi tengah malam dan semua telah pergi tidur.
“drap, drap, drap...” suara langkah kaki dan siluet seseorang dengan gaun anak-anak berwarna pink pucat berjalan terlihat dari sudut mataku yang jelas-jelas sudah tertutup rapat sejak beberapa waktu yang lalu.
Aku mulai merinding.
Aku tidak yakin pukul berapa tepatnya, namun aku yakin aku sudah terlelap sejak tadi dan semua orang tentu sudah tertidur pulas.
Aku tahu betul aku sudah tidur dengan mata tertutup rapat. Lantas mengapa aku dengan jelas melihat seseorang berjalan di balik kelambu. Langkah kakinya juga terdengar sangat-sangat jelas.
Aku tidur menghadap tembok, sehingga tidak dapat kupastikan siapa sosok tersebut. Tapi aku mengingat kakakku yang penakut. Jadi kali ini, aku memberanikan diri untuk memastikan dia baik-baik saja dan berusaha sebaik mungkin agar aku tahu siapa sosok di balik kelambu.
Perlahan dengan mata tetap terpejam, aku membalik posisi tidurku menjadi menghadap kasur kakakku. Aku mengintip dari celah mataku karena takut ketahuan sosok tersebut, kalau aku menyadari kehadirannya.
Aku menghela napas lega ketika kakak tertidur pulas membelakangiku. Dia terlihat baik-baik saja dan aku berusaha kembali ke posisi tidur awalku.
Sayang sekali, sosok dibalik kelambu tersebut tengah menatapku yang hendak membalikkan badan ke tembok.
Seketika aku merinding dan langsung merapal doa menurut keyakinanku.
Wajahnya terlihat jelas, sekalipun aku benar-benar sadar mataku tengah terpejam rapat. Seorang gadis cilik mungkin berusia sekitar 5 tahun, berdiri disana menatapku dari balik kelambu.
Aku terus merapalkan doa dan tidak membuka mataku sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, badanku tiba-tiba saja sudah dalam posisi terlentang. Gadis kecil itu terus menatapku hingga tatapannya membuat tubuhku melayang tinggi hampir setengah pintu kamar.
Aku menoleh ke arah kakakku hendak meminta tolong, namun dia masih tertidur lelap. Aku hendak meminta tolong namun tidak bisa bersuara, membuka matapun aku tak bisa.
Yang kusadari selanjutnya, sekitar 5 menit aku melayang di udara dan gadis di depan kelambu itu dengan setia menatapku yang asik memejamkan mata, berusaha tenang dan tetap marapalkan doa.
Aku hanya mengingat bahwa aku terus merapal doa, sampai suara doaku berhasil membuatku merasa semakin terlelap dan tidak peduli dengan kondisi tubuhku yang melayang.
Saat sudah lelap, kusadari tubuhku turun dengan sendirinya dengan rileks dan kesadaranku hilang bersama alam mimpiku.
Keesokan paginya, aku dan kakak tidak langsung keluar kamar. Kakak bangun lebih awal dan menantiku bangun. Aku mendapatinya duduk dikasurku sambil menatapku dengan tatapan ketakutan ketika aku terjaga.
“Dek, kamu semalam gak kenapa-napa, kan?” tanyanya sambil menggandeng jari tanganku.
Aku bisa merasakan ketakutannya melingkupi kami. Aku menimbang-nimbang untuk bercerita atau tidak. Dan keputusanku pada saat itu adalah untuk tidak menceritakannya pada kakak, karena takut dia nanti malah jadi takut karena ceritaku.
Kisah itu sudah terpendam lama. Namun, pada hari Minggu beberapa hari yang lalu, sebuah pertanyaan lugu menghadirkan pengakuan baru diantara kami.
“Kak, kenapa kamu kalo tidur lampumu selalu nyala?” tanyaku disuatu Minggu pagi, usai kami pulang beribadah.
“Hmm, kamu pasti ketawa, tapi gapapa deh. Jadi gini, sebenernya dulu waktu kita masih kecil, aku lihat anak kecil, cewek, pake gaun gitu, warna nya pink pucat. Dia ngeliatin aku dari balik kelambu. Dan setelahnya aku melayang diudara pas dia liat ke arahku. Sialnya, kamu tidur pules banget dan anehnya mataku, mulutku, badanku semuanya tu rasanya kekunci rapet. Aku bersyukur kamu pules jadi kamu gak liat dia, tapi aku bete juga ga ada yang nolongin aku waktu itu. Jadi aku cuma bisa doa dalem hati dan gatau gimana aku tau badanku turun sendiri dan aku lelap sampai pagi. Sejak saat itu, aku ga mau lagi tidur dengan lampu mati. Aku gatau itu mimpi atau bukan tapi kerasa nyata banget, dek.” Cerita kakak panjang-panjang.
Aku terkesiap pagi itu, dan langsung tertawa karena ternyata dihari yang sama, kami memimpikan satu sama lain dengan sosok yang sama.
“Guess what? I see you her too that night, but kalo versiku, yang melayang aku, bukan kamu. Jadi sepertinya, malem itu adalah tragedi bersama yang hari ini baru kita tahu, deh.” Kataku lalu kami tertawa konyol.
“Tapi, dia ga pernah dateng lagi kan?” tanyaku lanjut.
“Ga , sih. Aku belum pernah liat. Tapi kalo sosok lain kayak seliweran cowok item gitu, pernah.” Jawaban kakak lagi-lagi membuatku ingin tertawa.
“Damn, samaan lagi. I see him beberapa kali, mama juga. Tapi it’s okay. Namanya juga idup, berdampingan sama yang gak kelihatan bukan hal yang aneh, kok.” Aku mencoba membangun hal positif agar tidak ada ketakutan diantara kami.
Kalau dipikir konyol juga karena kakak beradik bisa memimpikan hal yang sama. Sementara itu, kami berdua tidak membahasnya dulu, karena ingin melindungi satu sama lain agar tidak ketakutan.
Namun seramnya, gadis kecil kelambu mendatangi kami di waktu yang sama tanpa alasan yang jelas begitu juga dengan cowok bersliweran di dalam rumah yang beberapa kali tertangkap sudut mata kami dengan jelas.
However, dari cerita ini, aku dan kakakku kini sudah jadi pemberani dan kami udah tidak takut lagi sama yang begituan. We still have a little brother dengan jarak 14 tahun, well itu lebih serem karena kita yang tanggung biayanya sekarang, gantiin orang tua.
Hahahahaha, being an adult is sucks, but still okay. See you!
Written and published by me, find me on twitter @ardesdey
Cerita ini belum lulus ke Redaksi Mojok, salah satu media di Instagram. So, I decide to post it on my blog.
Happy reading, thank you.