<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Warta Tulisan</title>
    <link>https://wartatulisan.writeas.com/</link>
    <description>tarian jemari beraroma gundah~</description>
    <pubDate>Sat, 20 Jun 2026 14:46:36 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Damira</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/damira?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Damira&#xA;&#xA;Wajahnya sungguh biasa saja,&#xA;apalagi gaya berpakaiannya.&#xA;Tapi lembut tuturnya sehalus sutra,&#xA;dan tangannya terampil dalam mengurai asmara.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Damira</strong></p>

<p>Wajahnya sungguh biasa saja,
apalagi gaya berpakaiannya.
Tapi lembut tuturnya sehalus sutra,
dan tangannya terampil dalam mengurai asmara.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/damira</guid>
      <pubDate>Fri, 17 May 2024 14:04:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tiga Puluh Enam</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/tiga-puluh-enam-y2cp?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tiga Puluh Enam&#xA;&#xA;36 hari aku mengamatimu &#xA;36 jam sekali kurang lebih kita bisa bertemu&#xA;36 kupu-kupu terbang di perutku&#xA;36 hari lagi kunyatakan perasaanku padamu&#xA;36 kali aku menengok ke ruangan kerjamu&#xA;36 tahun kamu dan kita baru bertemu&#xA;36 hari lagi aku pergi&#xA;36 detik sebelum itu, bisakah kuminta kau membalas perasaanku lebih dulu?&#xA;&#xA;~Lidah Kulon, Surabaya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tiga Puluh Enam</strong></p>

<p>36 hari aku mengamatimu
36 jam sekali kurang lebih kita bisa bertemu
36 kupu-kupu terbang di perutku
36 hari lagi kunyatakan perasaanku padamu
36 kali aku menengok ke ruangan kerjamu
36 tahun kamu dan kita baru bertemu
36 hari lagi aku pergi
36 detik sebelum itu, bisakah kuminta kau membalas perasaanku lebih dulu?</p>

<p>~Lidah Kulon, Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/tiga-puluh-enam-y2cp</guid>
      <pubDate>Fri, 17 May 2024 13:55:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Yang Terlewatkan</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/yang-terlewatkan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Yang Terlewatkan&#xA;Barangkali di satu malam,&#xA;Kehangatan senyumanku membuatmu rindu&#xA;Barangkali di satu malam, kamu juga rindu tentang kita yang berterus terang,&#xA;Terus bicara dari pagi hingga terbenam&#xA;Tentang mimpi-mimpi dan hari-hari kosong di bumi&#xA;Dan bila barangkali kamu sadar, sudah banyak hal yang kamu lewatkan,&#xA;Tentang aku,&#xA;Kamu,&#xA;Dan kita.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yang Terlewatkan</strong>
Barangkali di satu malam,
Kehangatan senyumanku membuatmu rindu
Barangkali di satu malam, kamu juga rindu tentang kita yang berterus terang,
Terus bicara dari pagi hingga terbenam
Tentang mimpi-mimpi dan hari-hari kosong di bumi
Dan bila barangkali kamu sadar, sudah banyak hal yang kamu lewatkan,
Tentang aku,
Kamu,
Dan kita.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/yang-terlewatkan</guid>
      <pubDate>Sun, 28 May 2023 11:38:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Venus- Bagian 2: Venus di Langit Pluto</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/venus-di-langit-pluto?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Venus- Bagian 2: Venus di Langit Pluto&#xA;&#xA;Bagaimana jika Venus tidak mendarat di Mars?&#xA;Akankah ia akan menemukan salah satu penduduk Pluto yang sedikit membuatnya bersemangat barang sekedipan saja?&#xA;&#xA;Kalau ya, Pluto macam apa yang tidak lebih dari seorang Mars?&#xA;&#xA;Bisa jadi, orang yang kamu cari tidak ada diantara penduduk Mars. Dia hanyalah seorang penduduk Pluto yang gila kerja, tampan, terlihat seperti pria workaholic membosankan namun mengesankan.&#xA;&#xA;Bagaimana rupanya, ia tampan dan laku keras di pasaran. Ia tipikal Louis Vuiton, orang-orang seribu dollarlah yang mampu mendapatkannya. &#xA;&#xA;Jauh dari kemungkinan itu pun, hanya 1/100000000000 penduduk Venus yang bisa mendarat di langit Pluto.&#xA;&#xA;Dan aku masih juga tidak yakin bahwa aku adalah salah satunya, sekalipun aku sudah berada di langit Pluto]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Venus- Bagian 2: Venus di Langit Pluto</strong></p>

<p>Bagaimana jika Venus tidak mendarat di Mars?
Akankah ia akan menemukan salah satu penduduk Pluto yang sedikit membuatnya bersemangat barang sekedipan saja?</p>

<p>Kalau ya, Pluto macam apa yang tidak lebih dari seorang Mars?</p>

<p>Bisa jadi, orang yang kamu cari tidak ada diantara penduduk Mars. Dia hanyalah seorang penduduk Pluto yang gila kerja, tampan, terlihat seperti pria workaholic membosankan namun mengesankan.</p>

<p>Bagaimana rupanya, ia tampan dan laku keras di pasaran. Ia tipikal Louis Vuiton, orang-orang seribu dollarlah yang mampu mendapatkannya.</p>

<p>Jauh dari kemungkinan itu pun, hanya 1/100000000000 penduduk Venus yang bisa mendarat di langit Pluto.</p>

<p>Dan aku masih juga tidak yakin bahwa aku adalah salah satunya, sekalipun aku sudah berada di langit Pluto</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/venus-di-langit-pluto</guid>
      <pubDate>Wed, 24 May 2023 12:16:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Venus-Bagian Satu</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/venus-bagian-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Venus-Bagian Satu&#xA;&#xA;Ufuk pagi yang cerah untuk hati penduduk Venus yang patah.&#xA;Lagi-lagi korteksku terbuka untuk hal-hal konyol yang tidak berhenti berputar di dalam angan&#xA;Menjadi penduduk Venus tidaklah mudah, bila setiap hari harus diliputi gundah karena seorang penduduk Mars yang membuatnya terus bertanya-tanya. &#34;Apakah betul dia pilihanku?&#34;&#xA;&#34;Kalau iya mengapa harus dia?&#34;&#xA;&#34;Bagaimana jika bukan dia?&#34;&#xA;&#34;Bagaimana kalau aku salah?&#34;&#xA;&#34;Mengapa aku mempertanyakannya?&#34;&#xA;&#34;Apakah aku tidak benar-benar jatuh cinta?&#34;&#xA;&#34;Mengapa banyak sekali pertanyaan lugu?&#34;&#xA;&#34;Lalu kenapa dulu nekat mencoba, kalau soal cinta saja, diri ini seragu itu?&#34;&#xA;&#xA;Dan ufuk pagi pun berubah mendung. Hujan deras menyisir kota dan telaga tergenang di seluruh radar kota. Aku masih di sini terdiam merenungi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang kita. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Venus-Bagian Satu</strong></p>

<p>Ufuk pagi yang cerah untuk hati penduduk Venus yang patah.
Lagi-lagi korteksku terbuka untuk hal-hal konyol yang tidak berhenti berputar di dalam angan
Menjadi penduduk Venus tidaklah mudah, bila setiap hari harus diliputi gundah karena seorang penduduk Mars yang membuatnya terus bertanya-tanya. “Apakah betul dia pilihanku?”
“Kalau iya mengapa harus dia?”
“Bagaimana jika bukan dia?”
“Bagaimana kalau aku salah?”
“Mengapa aku mempertanyakannya?”
“Apakah aku tidak benar-benar jatuh cinta?”
“Mengapa banyak sekali pertanyaan lugu?”
“Lalu kenapa dulu nekat mencoba, kalau soal cinta saja, diri ini seragu itu?”</p>

<p>Dan ufuk pagi pun berubah mendung. Hujan deras menyisir kota dan telaga tergenang di seluruh radar kota. Aku masih di sini terdiam merenungi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang kita.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/venus-bagian-1</guid>
      <pubDate>Thu, 18 May 2023 12:33:39 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SAKTA SANGKARA - Bagian Tiga; Dalam Satu Babak</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/sakta-sangkara-bagian-tiga-dalam-satu-babak?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tidak ada suatu yang kebetulan,&#xA;ketika khalik sudah jelas mengukir ramalan.&#xA;&#xA;Cara adalah pendatang baru. Dan Sakta sudah dibangku tengah mengisi ruang padat kota Jogja sebagai salah seorang mahasiswa di sana.&#xA;&#xA;Keduanya telah berteman sejak kecil, namun Sakta harus pindah mendadak tanpa berpamitan karena ayahnya kecelakaan saat dinas kerja. &#xA;&#xA;Tapi di sudut langit biru ini, mereka bertemu kembali tanpa saling mengetahui.&#xA;&#xA;Mahacara, dengan caranya berhasil mengikuti Sakta ke apartemennya. Gadis itu bahkan mendapati dirinya berhasil menguping lantunan nada-nada indah dari bibir Sakta, yang tengah bersenandung di tengah derasnya hujan di kota istimewa Yogyakarta.&#xA;&#xA;Tangan Cara gatal untuk tidak mengetuk bilik pintu unit apartemen Sakta. Kenyataan membahagiakan betul-betul menyengatnya karena rupanya, mereka adalah tetangga.&#xA;&#xA;523 dan 522.&#xA;&#xA;Kebetulan yang betulan menakjubkan bagi Cara.&#xA;&#xA;Sakta tidak pernah sadar, seorang perempuan yang sangat dikenalnya sejak lama, telah membuntutinya diam-diam. Dia terus fokus dengan nyanyiannya, sementara Cara tengah menimbang untuk kembali ke unitnya atau tidak.&#xA;&#xA;&#34;Ah sudahlah. Mari selesaikan perkenalan ini dalam satu babak agar aku tidak penasaran.&#34; Cara bergumam pada dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Halo. Aku Cara.&#34;&#xA;&#xA;Sakta tertegun. Bingung. Dan sedikit banyak senang.&#xA;&#xA;&#34;Cara siapa?&#34; gumamnya bingung sambil mematung menatap Mahacara.&#xA;&#xA;&#34;Cara mudahnya sih, kau ngat saja namaku, hehe. Namaku Kanistha Mahacara dari unit sebelah. Kau bisa memanggilku Cara. Salam kenal tetangga baru!&#34;&#xA;&#xA;Binar mata Sakta meredup sendu.&#xA;Rindu menguar deras dibatas pintu.&#xA;Mahacara sang kuasa mengembalikan Cara-nya dalam satu babak tanpa ragu.&#xA;&#xA;Cara mematung saat Sakta memeluknya erat, mencium keningnya mendadak. Ia tak sempat menelaah keadaan diantara mereka. Jantungnya berdetak pilu, desir bingung harus sedih atau senang diperlakukan demikian oleh laki-laki unit sebelah apartemennya itu.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih karena sudah kembali utuh kepada, Cara. Ini aku, Sakta Sangkara.&#34;&#xA;&#xA;Sepasang mata bola,&#xA;dari waktu yang lama,&#xA;kembali beradu pada pukul lima,&#xA;dengan perasaan yang masih sama.&#xA;&#xA;&#34;Sakta?!&#34;&#xA;&#xA;~Selesai.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Tidak ada suatu yang kebetulan,</em>
<em>ketika khalik sudah jelas mengukir ramalan.</em></p>

<p>Cara adalah pendatang baru. Dan Sakta sudah dibangku tengah mengisi ruang padat kota Jogja sebagai salah seorang mahasiswa di sana.</p>

<p>Keduanya telah berteman sejak kecil, namun Sakta harus pindah mendadak tanpa berpamitan karena ayahnya kecelakaan saat dinas kerja.</p>

<p>Tapi di sudut langit biru ini, mereka bertemu kembali tanpa saling mengetahui.</p>

<p>Mahacara, dengan caranya berhasil mengikuti Sakta ke apartemennya. Gadis itu bahkan mendapati dirinya berhasil menguping lantunan nada-nada indah dari bibir Sakta, yang tengah bersenandung di tengah derasnya hujan di kota istimewa Yogyakarta.</p>

<p>Tangan Cara gatal untuk tidak mengetuk bilik pintu unit apartemen Sakta. Kenyataan membahagiakan betul-betul menyengatnya karena rupanya, mereka adalah tetangga.</p>

<p>523 dan 522.</p>

<p>Kebetulan yang betulan menakjubkan bagi Cara.</p>

<p>Sakta tidak pernah sadar, seorang perempuan yang sangat dikenalnya sejak lama, telah membuntutinya diam-diam. Dia terus fokus dengan nyanyiannya, sementara Cara tengah menimbang untuk kembali ke unitnya atau tidak.</p>

<p>“Ah sudahlah. Mari selesaikan perkenalan ini dalam satu babak agar aku tidak penasaran.” Cara bergumam pada dirinya sendiri.</p>

<p>“Halo. Aku Cara.”</p>

<p>Sakta tertegun. Bingung. Dan sedikit banyak senang.</p>

<p>“Cara siapa?” gumamnya bingung sambil mematung menatap Mahacara.</p>

<p>“Cara mudahnya sih, kau ngat saja namaku, hehe. Namaku Kanistha Mahacara dari unit sebelah. Kau bisa memanggilku Cara. Salam kenal tetangga baru!”</p>

<p><em>Binar mata Sakta meredup sendu.</em>
<em>Rindu menguar deras dibatas pintu.</em>
<em>Mahacara sang kuasa mengembalikan Cara-nya dalam satu babak tanpa ragu.</em></p>

<p>Cara mematung saat Sakta memeluknya erat, mencium keningnya mendadak. Ia tak sempat menelaah keadaan diantara mereka. Jantungnya berdetak pilu, desir bingung harus sedih atau senang diperlakukan demikian oleh laki-laki unit sebelah apartemennya itu.</p>

<p>“Terima kasih karena sudah kembali utuh kepada, Cara. Ini aku, Sakta Sangkara.”</p>

<p><em>Sepasang mata bola,</em>
<em>dari waktu yang lama,</em>
<em>kembali beradu pada pukul lima,</em>
<em>dengan perasaan yang masih sama.</em></p>

<p>“Sakta?!”</p>

<p>~Selesai.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/sakta-sangkara-bagian-tiga-dalam-satu-babak</guid>
      <pubDate>Mon, 24 Oct 2022 06:20:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Duka di Bola Mata Siwa</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/duka-di-bola-mata-siwa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Api menyala,&#xA;Seseorang membakarnya,&#xA;Lalu mematikannya&#xA;Duka menyala,&#xA;Seseorang membakarnya,&#xA;Lalu melupakannya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Api menyala,
Seseorang membakarnya,
Lalu mematikannya
Duka menyala,
Seseorang membakarnya,
Lalu melupakannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/duka-di-bola-mata-siwa</guid>
      <pubDate>Mon, 24 Oct 2022 06:01:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kisah Rama dan Shinta</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/kisah-rama-dan-shinta?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pekerjaanku mungkin sulit,&#xA;Tapi kamu bertahan walau kondisiku melilit,&#xA;Terimakasih karena sudah mau membantuku irit,&#xA;Dan mendoakanku setiap menit.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaanku mungkin sulit,
Tapi kamu bertahan walau kondisiku melilit,
Terimakasih karena sudah mau membantuku irit,
Dan mendoakanku setiap menit.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/kisah-rama-dan-shinta</guid>
      <pubDate>Fri, 21 Oct 2022 10:14:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sudah Siap Pulang?</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/sudah-siap-pulang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ada yang peduli hanya pada uang,&#xA;Tapi tak pada tubuh para pejuang.&#xA;&#xA;Ada yang instan meminta,&#xA;Tapi tak tahu keluh kesah mereka.&#xA;&#xA;Ada yang hanya bisa menyalahkan,&#xA;Tapi tak tahu siapa yang jadi pelampiasan.&#xA;&#xA;Tapi bumi hanya sementara, &#xA;jangan mengeluh saja. &#xA;&#xA;Sebentar berpulang, &#xA;sebentar sakit kan hilang.&#xA;&#xA;Sebentar saja, sebentar berjuang.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang peduli hanya pada uang,
Tapi tak pada tubuh para pejuang.</p>

<p>Ada yang instan meminta,
Tapi tak tahu keluh kesah mereka.</p>

<p>Ada yang hanya bisa menyalahkan,
Tapi tak tahu siapa yang jadi pelampiasan.</p>

<p>Tapi bumi hanya sementara,
jangan mengeluh saja.</p>

<p>Sebentar berpulang,
sebentar sakit kan hilang.</p>

<p>Sebentar saja, sebentar berjuang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/sudah-siap-pulang</guid>
      <pubDate>Fri, 21 Oct 2022 03:56:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Yang Bagaimana</title>
      <link>https://wartatulisan.writeas.com/yang-bagaimana?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Senja berjalan menuju malam,&#xA;Bukan terpaksa namun sudah waktunya,&#xA;Hiruk pikuk mendadak diam,&#xA;Tentang bagaimana kita yang sesungguhnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Senja berjalan menuju malam,
Bukan terpaksa namun sudah waktunya,
Hiruk pikuk mendadak diam,
Tentang bagaimana kita yang sesungguhnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wartatulisan.writeas.com/yang-bagaimana</guid>
      <pubDate>Fri, 21 Oct 2022 03:50:11 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>