SAKTA SANGKARA – Bagian Satu; Gibson Tua

Langit kelabu memercik di ujung sore, perlahan membuatnya kelabu. Dua biji mata, dan gerak-gerik gusar menyapa laki-laki dengan surai hitam yang berdiri di halte bus dekat Jl. Altar.

Alun-alun Utara, singkatnya altar, kini hampir diguyur kesedihan. Air mata biru bersiap segera melarungi siapa saja yang berpijak di tanah kota Jogjakarta.

Sakta ditemani Gibson tua miliknya, melarikan diri dari halte trans Jogja. Persetan dengan bus yang sejam sudah ia tunggu, namun tak kunjung peka tuk hadir. Sakta harus kembali ke apartemennya.

Langkah tergesa membentak tanah Jl. Altar dengan kasar. Menyakiti setiap hitamnya jalanan beraspal seperti orang kesetanan. Namun Sakta harus melakukannya, ia harus sampai ke apartemen sebelum hujan mengguyur kota Jogja.

Mungkin sekitar 20 menit kemudian, lelaki dengan surai hitam itu sampai di apartemennya. Ia baru menginjakkan kaki di lobby, namun tangisan biru langit, sudah melarungi samudera raya. Beberapa rumah sederhana di gang seberang terlihat sibuk memanggil anak-anak mereka agar tidak bermain bersama rintik sendu yang sedang melarung.

Saat-saat inilah, batin Sakta bersorak penuh syukur.

“Setidaknya, Gibson tua-ku selamat. Hehe” ujarnya sambil menatap gitar hitam tua miliknya, dengan senar keras yang lebih dikenal dengan nama string.