SAKTA SANGKARA – Bagian Tiga; Dalam Satu Babak

Tidak ada suatu yang kebetulan, ketika khalik sudah jelas mengukir ramalan.

Cara adalah pendatang baru. Dan Sakta sudah dibangku tengah mengisi ruang padat kota Jogja sebagai salah seorang mahasiswa di sana.

Keduanya telah berteman sejak kecil, namun Sakta harus pindah mendadak tanpa berpamitan karena ayahnya kecelakaan saat dinas kerja.

Tapi di sudut langit biru ini, mereka bertemu kembali tanpa saling mengetahui.

Mahacara, dengan caranya berhasil mengikuti Sakta ke apartemennya. Gadis itu bahkan mendapati dirinya berhasil menguping lantunan nada-nada indah dari bibir Sakta, yang tengah bersenandung di tengah derasnya hujan di kota istimewa Yogyakarta.

Tangan Cara gatal untuk tidak mengetuk bilik pintu unit apartemen Sakta. Kenyataan membahagiakan betul-betul menyengatnya karena rupanya, mereka adalah tetangga.

523 dan 522.

Kebetulan yang betulan menakjubkan bagi Cara.

Sakta tidak pernah sadar, seorang perempuan yang sangat dikenalnya sejak lama, telah membuntutinya diam-diam. Dia terus fokus dengan nyanyiannya, sementara Cara tengah menimbang untuk kembali ke unitnya atau tidak.

“Ah sudahlah. Mari selesaikan perkenalan ini dalam satu babak agar aku tidak penasaran.” Cara bergumam pada dirinya sendiri.

“Halo. Aku Cara.”

Sakta tertegun. Bingung. Dan sedikit banyak senang.

“Cara siapa?” gumamnya bingung sambil mematung menatap Mahacara.

“Cara mudahnya sih, kau ngat saja namaku, hehe. Namaku Kanistha Mahacara dari unit sebelah. Kau bisa memanggilku Cara. Salam kenal tetangga baru!”

Binar mata Sakta meredup sendu. Rindu menguar deras dibatas pintu. Mahacara sang kuasa mengembalikan Cara-nya dalam satu babak tanpa ragu.

Cara mematung saat Sakta memeluknya erat, mencium keningnya mendadak. Ia tak sempat menelaah keadaan diantara mereka. Jantungnya berdetak pilu, desir bingung harus sedih atau senang diperlakukan demikian oleh laki-laki unit sebelah apartemennya itu.

“Terima kasih karena sudah kembali utuh kepada, Cara. Ini aku, Sakta Sangkara.”

Sepasang mata bola, dari waktu yang lama, kembali beradu pada pukul lima, dengan perasaan yang masih sama.

“Sakta?!”

~Selesai.