SAKTA SANGKARA – Bagian Dua; Ananta (Tanpa Batas)
Pada sebuah sudut di kota Jogja, seseorang menhipnotis nyala lilin disana untuk membuat aroma rindu mengudara. Wangi mint bercampur dengan lelehan lilin yang terbakar, menyeruakan aroma ruangan kamarnya yang menenangkan seperti hutan hujan tropis.
Senandung mulai terpetik, menyuarakan isi hati gundah gulana dari sang pemilik ruangan tak kasat luka.
Sakta Sangkara, bernyanyi dengan merdu. Burung-burung yang berteduh di sangkar saat hujan, kini memindah atap mereka ke sudut jendela apartemen Sakta hanya untuk mencuri pandang pada lelaki manis itu.
Apabila kamu menjadi salah satu dari kerumunan burung-burung itu, mungkin kamu akan tersenyum bodoh karena siapapun akan rela menerobos jendela Sakta, untuk mencapai belainya.
Dan itu juga yang dilakukan Kanistha Mahacara. Perempuan yang menatap Sakta lekat-lekat tanpa berkedip barang seperdetik pun, sejak di halte trans Jogja. 21 tahun hidup Cara, ia tak pernah senekat itu untuk mengikuti langkah kaki seseorang sampai ke singgahsananya.
Namun Sakta, memang benar-benar mencerminkan pantulan adonisnya, hingga Cara ikut melekat seakan terhipnotis bayangnya.
Dalam latunan nada-nada Sakta, bayangan masa remaja terlintas disana. Menyebrang tanpa signal, dan menggenang begitu saja.
“Kamu tahu apa artinya Sakta?” Tanya sang pemilik nama pada gadis belia seusianya di sebuah taman kota.
“Entahlah, aku tidak peduli Sakta. Nama mu aneh.”
“Melekat. Sakta artinya melekat sesuai kehendak hati seseorang. Setidaknya itu kata ayahku.”
“Kenapa begitu?”
Dua alis mata gadis belia itu mengkerut bersama dahinya.
“Karena aku bisa membuat siapapun melekat padaku, apalagi kamu.”
Ada senyum samar yang menggantung penuh harga di sudut bibir mereka, dan hangat tanpa batas menyebar di ruang tak kasat mata.
“Berapa harga sebuah rindu hingga aku harus menunggu tanpa batas, Cara?”
Gumaman parau hatinya terombang-ambing di lautan bebas, melarungi rindu tanpa adanya labuh yang jelas.