Venus-Bagian Satu
Ufuk pagi yang cerah untuk hati penduduk Venus yang patah. Lagi-lagi korteksku terbuka untuk hal-hal konyol yang tidak berhenti berputar di dalam angan Menjadi penduduk Venus tidaklah mudah, bila setiap hari harus diliputi gundah karena seorang penduduk Mars yang membuatnya terus bertanya-tanya. “Apakah betul dia pilihanku?” “Kalau iya mengapa harus dia?” “Bagaimana jika bukan dia?” “Bagaimana kalau aku salah?” “Mengapa aku mempertanyakannya?” “Apakah aku tidak benar-benar jatuh cinta?” “Mengapa banyak sekali pertanyaan lugu?” “Lalu kenapa dulu nekat mencoba, kalau soal cinta saja, diri ini seragu itu?”
Dan ufuk pagi pun berubah mendung. Hujan deras menyisir kota dan telaga tergenang di seluruh radar kota. Aku masih di sini terdiam merenungi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang kita.