Warta Tulisan

tarian jemari beraroma gundah~

Hei rindu, terbiasa denganmu, mencoba berhenti, malahan hampa, mencoba sembunyi, tapi untuk apa, mencoba hadir, Ingin menjadi saksi, Tentang sebuah rasa yang sudah selayaknya ada diantara kita dan cinta.

Lucunya, di hari ini banyak orang yang tidak mengerti alasan dibalik gelisah setiap malam, Mengapa terkesiap setiap 2 jam, Dan mengapa bertahan dalam tawa tertahan.

Namun setidaknya, masih ada pegangan bernama Tuhan.

Cukuplah Dia bagimu, Cukuplah Dia yang mengerti bagaimana lelahnya di buru, Cukuplah Dia yang merengkuhmu, Cukuplah Dia yang selalu ada kala terik menghujanmu.

Jadi cukuplah juga kamu mengeluh, dan mulai bersandarlah. Ia yang menanggung beban hidupmu.

Balas ia dengan kebaikan selama angin masih terasa segar.

Hidup memang melulu soal berjuang, tapi berjuang mu tak pernah sendirian.

Ada Dia yang cukup di siang dan malam mu.

Condongkan cahaya ke arah laut biru, Barangkali disana kau lihat badai mengobrak-abrik tenangnya hidupmu, Tapi kau harus seperti batu karang, Tersenyum kaku terus berjuang.

Aku dan kamu tak punya indera ke-enam, Tak tahu sandi atau pun kode, Dari mana lagi datang ide, Jika tak ucap dari terbit hingga terbenam?

Bicaralah, ungkap inginmu. Meski marahmu itu lucu, tapi jika kau bisu, amarahku yang tak lucu,

Sayangku.

Di sudut kota ini, Aku mengenal simpati. Hembus angin dan langkah kaki pergi, Yang tak mungkin terhenti.

Kutarik napas ku perlahan, Hingga ragaku menyentuh awan-awan Sebelum kukembali ke peradaban, Semoga pagiku masih ada harapan

Ini memang sudah jadi rutinitas, Anak-anak kota yang dikenal mayoritas Tentang tutur atau laku yang tak lagi tahu batas Mungkin juga tentang hidupku yang tak lagi selaras

Sadar betul aku akan kicau pagi ibuku, Agar kutak jatuh ketika melaju Sadar betul aku akan kicau malam ayahku, Agar jangan kujadi gadis lugu

Tapi di sudut kota ini, Hidupku kutentukan sendiri, Dari malam hingga pagi kembali, Aku sadar masa mudaku belum berarti.

Tapi aku mengenal simpati, Dari orang-orang yang berjuang demi hidup ini. Dan kuharap aku peka hati, Sehingga kicau ayah-ibu tak semu lagi

Dahiku mengkerut, Dan aku berlutut, tertunduk melayu disudut laut biru, aku tanpa-Mu.

21.10.22.10.40

Hentilah emosi hentilah, pergi. Beku kan lagi biar mati. Raiblah malu raiblah aku, Mengukir sampah dan napsu

Sejengkal waktu, terjungkal Yang kotor tak hanya akal. ketidakpekaan hanyalah cikal bakal, Akan bencana yang sudah terkenal.

21.10.22

Gulanya 5% Saltonya 95% Apalagi kalau bukan...

Saya.

Peduli dan butuh belum juga menggambarkan ikatan Kecil-kecilan dulu, katanya Apanya? Ego? Uang? Pengertian? Yang Mana? Jelasnya, masih ada juang walau harus pergi dulu

Rehat katanya. Sehari saja sudah mau gila, apa iya Eka Kurniawan benar kalau Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas? Lalu kenapa sekarang rindu dibayar rehat?

Bagaimana soal buah-buah Roh? Bagaimana kalau banyak yang tak kau ahli, perihal menyambutku, menyambutmu, kita kembali atau pergi?

19.10.22~

Terima kasih untuk selalu tepat waktu, dalam memenuhi perfeksionis sebuah kasih. Selamat tinggal juga, pada perfeksionis sebuah labuh, yang selalu semu dan sialnya indah.

`66 weeks ago~

Kalau aku jadi perempuan, kamu yang pangling. Kalo sifatku sungguh perempuan, kamu yang pusing. Kalau aku banyak yang naksir, aku yang nyengir, hehe.

`144weeks ago~